Tangan-tangan di balik setiap baris benang.
Sudah terampil, sudah merajut
Sebagian besar perajut kami telah memegang hakpen selama belasan tahun. Mereka belajar dari ibu, nenek, atau tetangga, merajut taplak dan sarung bantal untuk menghiasi rumah sendiri.
Bekerja dari rumah, sesuai waktunya
Tidak ada jam kerja pabrik yang kaku. Mereka merajut setelah cucian selesai, saat anak-anak tidur siang, atau sore hari di beranda sambil bercengkerama dengan tetangga.
Yang selama ini belum mereka punya
Bukan keterampilan teknis yang kurang, melainkan akses ke benang premium, kurasi desain bernilai jual tinggi, dan jalur langsung ke pembeli yang menghargai ketelitian tangan mereka.
“Uniknit mempertemukan desain, harga, dan pembeli dengan keterampilan yang sudah ada.”
Delapan perempuan, puluhan karya.
Ibu Ratna
14 karya dirajut
“Merajut di sela-sela mengurus rumah membuat saya merasa punya karya yang dihargai.”
Ibu Sri
11 karya dirajut
“Tangan saya terbiasa memegang hakpen sejak muda, kini rajutan saya dipakai orang ke kantor.”
Ibu Endang
16 karya dirajut
“Setiap baris benang punya ritmenya sendiri. Tidak bisa diburu-buru mesin.”
Ibu Nur
9 karya dirajut
“Saya merajut saat sore hari di beranda, sambil mendengarkan radio dan menunggu anak pulang.”
Ibu Maya
12 karya dirajut
“Mengetahui bahwa tas buatan saya cuma ada satu di dunia adalah kebanggaan terbesar.”
Ibu Siti
8 karya dirajut
“Uang hasil merajut langsung saya tabung untuk keperluan sekolah anak di kampung.”
Ibu Dewi
10 karya dirajut
“Rajutan itu seperti menulis surat, tiap tusukan membawa doa untuk pemiliknya kelak.”
Ibu Yanti
7 karya dirajut
“Di Uniknit karya kami diberi nomor dan nama kami dicatat di hang-tag. Itu sangat berarti.”
Suka merajut? Mari bekerja sama.
Jika Anda senang merajut di waktu luang dan ingin karya tangan Anda dihargai layak, pintu komunitas Uniknit selalu terbuka untuk Anda.
Gabung sebagai maker